Tinggalkan Nasi, Rakyat Indonesia Malah Ganti Makan Mie

http://128.199.71.150/pantaipoker/ - Untuk merawat ketahanan pangan nasional, pemerintah udah mengampanyekan diversifikasi produk. Masyarakat yang mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok diimbau untuk memakai bahan lain, perumpamaan jagung, sagu, ataupun singkong.
Namun sayang, seruan diversifikasi dinilai keliru diterjemahkan. Masyarakat sebenarnya mulai meningalkan nasi, tetapi justru terdorong berubah pada komoditas yang mayoriyas berasal berasal dari impor.
" Setelah meninggalkan nasi, mengkonsumsi itu justru berubah kepada roti dan mie instan yang berbahan baku mayoritas impor," kata Direktur Utama Badan Urusan Logistik, Sutarto Alimoesso, sebagaimana dikutip Dream berasal dari merdeka.com, Kamis 2 Oktober 2014.
Menurut dia, peralihan mengkonsumsi penduduk ke bahan yang mayoritas impor itu disebabkan belum terdapatnya bahan pengganti nasi yang kuantitasnya sepadan bersama dengan terigu. Alasan lain, harga lebih bahan subtitusi nasi berasal dari di dalam negeri lebih mahal dan kemasan hasil olahan yang tidak cukup menarik.
Sutarto menghendaki seluruh pihak, terhitung kampus, bisa memikirkan solusi kasus itu. Bulog terhitung menghendaki distributor pangan diwajibkan menyalurkan produk pangan pokok berbahan lokal, layaknya singkong atau sorgum. Misalnya, sementara distributor mendistribuskan terigu impor 100 kilogram, maka harus menyalurkan 10 kilogram tepung singkong. " Jadi pangan berbahan baku lokal itu terhitung ikut tersalurkan ke masyarakat," tutur Sutarto.
Sementara itu, Peneliti Ketahanan Pangan PSEKP Kementerian Pertanian, Achmad Suryana, menilai harus ada reorientasi program ketahanan pangan, menjadi kemandirian pangan. Pengembangan komoditas pengganti beras harus ditentukan secara spesifik dan diberi obyek sementara yang jelas.
" Kalau kemandirian itu artinya optimalisasi memproduksi domestik. Ini harus terencana dan sistemik, ada optimalisasi energi saing lokal. Identifikasi mana saja yang rela dikembangkan," ujar dia.
Selain itu, inovasi dan teknologi pertanian menjadi harga mati. Alokasi anggaran litbang pertanian terhitung harus ditambah. " Karena barangkali udah ada teknologi yang tinggal dimatangkan 1-2 th. udah bisa disebarkan ke masyarakat," tutur Achmad.

No comments:
Post a Comment