Tren Negara Dunia Longgarkan Lockdown COVID-19, Tepatkan Indonesia Mengikutinya?

Sejumlah negara di dunia mulai melonggarkan ketetapan lockdown dan karantina diri karena mulai penyebaran virus korona baru COVID-19 telah lebih terkendali. Indonesia yang tetap melaporkan ratusan masalah positif setiap harinya juga mulai mewacanakan bakal memulai ulang aktivitas ekonomi dan pendidikan. Pokerlegenda 88
Tetapi banyak orang mempertanyakan apakah ini kala yang tepat. Apalagi Singapura, Jerman, dan Korea Selatan yang pada mulanya telah melonggarkan lockdown kini justru melaporkan timbulnya klaster dan gelombang baru Covid-19.
Padahal ketiga negara itu selalu jadi rujukan penanganan wabah virus korona. Benarkah cara pelonggaran ketetapan karantina saat virus telah lebih tertanggulangi adalah keputusan yang tepat?
Korea Selatan dan Klaster Itaewon
Pemerintah Korea Selatan baru-baru ini, tepatnya akhir April tempo hari mulai secara bertahap mengizinkan warganya ulang bekerja. Tempat publik layaknya sasana olahraga, mal, dan bioskop juga beroperasi untuk melayani masyarakat.
Tetapi terhadap Senin (11/5), pemerintah dilaporkan sedang kewalahan menanggulangi penemuan klaster baru Covid-19 yang berasal dari sebuah bar di tempat Itaewon.
Ternyata, pria berusia 29 th. itu telah terinfeksi namun awalnya belum mengalami gejala, ia pun menghabiskan akhir pekannya di 5 klub malam tidak serupa di kira-kira Seoul. Akibatnya, puluhan masalah kini telah terkonfirmasi yang mengakses dari lokasi kelima bar malam itu.
Otoritas setempat telah menguji 4.000 orang yang telah melindungi tempat-tempat malam, namun tetap mengusahakan melacak kira-kira 3.000 lainnya. Baru kira-kira seminggu dibuka, kini bar dan diskotek di Korea Selatan ditutup ulang karena was-was berlangsung gelombang ke dua Covid-19.
Gelombang Kedua Singapura
Sebelumnya terhadap pertengahan Maret lalu, Singapura juga sempat dipuji karena dinilai telah sukses menanggulangi wabah Covid-19. Pada kala itu kuantitas orang terinfeksi berada di angka 3000-an dan cuma meningkat sedikit setiap harinya. Akhirnya pemerintah menentukan melonggarkan restriksi. Tetapi lantas kuantitas orang yang terinfeksi justru meningkat, sampai kini Singapura telah melaporkan lebih dari 25 ribu masalah Covid-19.
Dikabarkan bahwa penyebab terjadinya gelombang baru Covid-19 di Singapura adalah karena padatnya pemukiman pekerja migran dan disertai pelonggaran restriksi yang terlampau dini. Walhasil, meski merupakan negara dengan populasi paling sedikit di kelompok negara ASEAN, namun kini Singapura memiliki kuantitas masalah positif Covid-19 terbanyak.
Jerman Gagal Kembali Normal
Hal yang mirip juga berlangsung terhadap negara dengan ekonomi terkuat di Eropa. Jerman telah memperbolehkan sejumlah kantor, pertokoan, dan sekolah untuk diakses ulang karena meski memiliki kuantitas masalah positif Covid-19 sampai ratusan ribu, angka kematian di negara selanjutnya tergolong jauh lebih rendah dengan yang lainnya. Angka kematian yang rendah dan upayanya untuk menunjang negara lain menanggulangi Covid-19 meski negeri sendiri juga mendapati ratusan ribu kasus, mengakibatkan Jerman dinilai sukses menanggulangi wabah.
Tetapi kini lebih dari satu minggu setelah dimulainya "normalisasi kehidupan", pemerintah Jerman justru dikabarkan telah merencanakan untuk ulang memberlakukan restriksi ketat. Hal selanjutnya karena kuantitas masalah Covid-19 telah mengalami peningkatan sejak lockdown diangkat.
Kanselir Angela Merkel menyatakan bahwa ketetapan kudu diperketat untuk jauhi rumah sakit jadi penuh di lebih dari satu bulan ke depan. Pada pekan ini, Jerman tetap melaporkan masalah sampai berjumlah ratusan per hari.
Lantas bagaimana cara yang pas untuk melonggarkan lockdown?
Pertama, ternyata kurva yang alami penurunan merupakan sinyal berakhirnya wabah agar mulai melonggarkan restriksi begitu saja. Ketiga negara di atas telah lihat gelombang dan klaster baru Covid-19.
Contoh yang lebih baik adalah Vietnam. Sebelum menentukan mengakses lockdown, mereka menanti sampai tidak ada laporan masalah baru selama lebih dari satu minggu.
Atau Selandia Baru juga dinilai telah sukses mengendalikan wabah Covid-19 berkat aksi cepat dan karantina yang ketat. Pada akhir April kemarin, negara itu selama seminggu lebih cuma melaporkan masalah Covid-19 dalam kuantitas satu digit, alias tidak lebih dari sepuluh masalah per harinya.
Kedua, studi dari Selandia Baru, pelonggaran dijalankan bertahap. Lalu dibikin penyesuaian atau yang sekarang sering disebut "the new normal".
Selandia Baru, misalnya, menghapus parkir di pinggir jalan agar trotoar lebih lebar yang memudahkan orang melindungi jarak. Lalu restoran dan kafe tidak boleh mencukupi tempatnya dengan kursi layaknya biasa agar pelanggan yang mampir tidak banyak. Lantas mereka yang tetap bisa bekerja dari rumah pun tidak kudu pergi ke kantor.
Artinya, saat lockdown dilonggarkan, penduduk Selandia Baru tidak menemui dunia yang mirip layaknya sebelum pandemi. Banyak aspek kehidupan yan berubah.

No comments:
Post a Comment