Harga batubara masih suram, dua emiten tambang ini bisa jadi pilihan

Harga batubara yang terus melemah sepanjang kuartal I-2020 membuat kinerja emiten pertambangan batubara tertekan. Kontan.co.id mencatat, berasal dari lima emiten yang telah merilis laporan keuangan. Semuanya kompak mencatatkan penurunan pendapatan dan laba bersih. Pantaipoker dominoqq
Meski demikian, tersedia secercah harapan bagi emiten batubara ke depan. Analis Panin Sekuritas Juan Oktavianus mengatakan, pengesahan Undang-Undang Mineral dan Batubara (UU Minerba) mampu jadi katalis positif bagi emiten tambang. Sebab, beleid ini memudahkan perusahaan tambang untuk lakukan izin pertambangan.
Meski emiten diberi kemudahan untuk lakukan eksplorasi tambang, Juan memandang UU Minerba tidak akan mempengaruhi pasokan batubara domestik. “Untuk pasokan batubara nasional itu telah diatur oleh Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang translasinya ke obyek mengolah nasional.
Saat ini emiten tambang batubara terhitung tengah dihadapi oleh ancaman karantina wilayah (lockdown) yang diberlakukan oleh beberapa pasar ekspor, sebut saja India. Sementara itu, porsi pendapatan beberapa emiten mampu dibilang benar-benar didominasi hasil penjualan ekspor.
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) misalnya, membukukan pendapatan konsolidasian senilai U$ 365,90 juta. Sebanyak US$ 296,85 juta atau 81,1% di antaranya merupakan penjualan ke pasar ekspor. Sementara sisanya, US$ 69,04 juta atau 18,9% dilempar ke pasar dalam negeri. Pun begitu dengan PT Adaro Energy Tbk (ADRO), sebanyak US$ 535,79 atau 78% berasal dari pendapatan konsolidasian merupakan penjualan ke pasar ekspor.
Untuk itu, Juan menyarankan investor untuk perhatikan emiten tambang batubara dengan porsi penjualan domestik yang besar. Salah satu emiten yang mampu dilihat adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Per kuartal I-2020, emiten pelat merah ini membukukan pendapatan bersih senilai Rp 5,12 triliun. Penjualan ke pasar dalam negeri menggapai Rp 3,34 triliun atau 65,2% berasal dari keseluruhan pendapatan PTBA.
Selain itu, Juan terhitung menyarankan investor untuk perhatikan saham ADRO. Sebab, emiten ini mempunyai diversifikasi usaha non-pertambangan batubara. Untuk diketahui, tidak benar satu bentuk diversifikasi usaha ADRO adalah membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) oleh entitas usaha PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) dan PT Tanjung Power Indonesia (TPI).
Juan tetap mengalkulasi perkiraan harga batubara untuk tahun ini. Namun yang jelas, katalis positif untuk komoditas emas hitam ini adalah seandainya pandemi Corona telah mereda dan kesibukan ekonomi mulai bangkit. “Saya rasa kebutuhan kekuatan akan meningkat supaya menambah permohonan akan batubara,” tutup Juan.

No comments:
Post a Comment