Potret Haru Seorang Bocah Ngintip Nonton Kartun di TV Tetangga

http://www.pokerpantai.org/
Potret seorang bocah laki-laki mengintip dari balik tembok untuk turut lihat tayangan kartun membuat haru fasilitas sosial.
Kisah itu dibagikan oleh pengguna facebook dengan akun Angel Fonseca.
Dalam postingan Angel nampak seorang bocah berkaus hijau tengah berdiri di samping tembok pintu masuk sebuah ruko. Wajahnya seperti menyaksikan sebuah televisi yang menayangkan program kartun.
Bocah itu nampak terlalu nikmati acara TV sehingga tidak jelas tersedia seseorang yang memperhatikannya.
" Tidak semua orang terlahir dengan peluang yang sama. Hargai apa yang anda punya," tulis Angel Fonseca pada caption postingannya.
Pemilik akun bernama asli Angel de Jesus Fonseca Lopez tersebut terhitung mengatakan bagaimana awal mula dirinya bertemu dengan bocah tersebut.
Angel mengatakan bahwa ia bertemu bocah bernama Carlos sementara ia dapat berangkat kerja. Foto itu diambilnya di Las Choapas, Veracruz, Meksiko.
Ia mulai iba lantaran dirinya terhitung memiliki pengalaman yang mirip dengan Carlos sementara kecil dulu.
Berasal dari ekonomi rendah sehingga untuk lihat TV pun perlu numpang tetangga. Ia bercerita bahwa orang tuanya pernah terlalu miskin, ia tidak memiliki televisi sendiri.
Karena itu, Angel terhitung dulunya lihat televisi melalui jendela tetangga.
Postingan facebook Angel Fonseca itupun memancing perhatian dan respon netizen. Angel pun menawarkan diri menghimpun sumbangan dari para netizen yang ingin menopang bocah tersebut.
Berdasarkan information dari Energy Access Outlook 2017 di website iea.org, kira-kira 1,1 miliar orang, atau 14 persen populasi dunia, tidak memiliki akses listrik.
Banyak kembali yang memperoleh pasokan listrik yang berkualitas buruk.
Sekitar 84% dari mereka yang tidak memiliki akses listrik tinggal di daerah pedesaan.
Lebih dari 95% dari mereka yang hidup tanpa listrik berada di negara-negara di Afrika sub-Sahara dan negara-negara berkembang di Asia.
Kemiskinan membuat sebuah keluarga di Kelantan, Malaysia, melalui masa-masa yang terlalu sulit. Keluarga Siti Hamidah Abdul Hamid hanya tergantung pada pendapatan suaminya untuk menutupi pengeluaran mereka.
Padahal, suami Siti yang bernama Muhamad Zuhaidi Safin hanya bekerja sebagai buruh. Penghasilan pria 33 th. itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka tiap-tiap hari.
Namun tak sesudah itu mereka berpangku tangan terima nasib. Untuk memenuhi kebutuhan makan tiap-tiap hari, keluarga Siti mengais kulit ayam yang dibuang sebuah kantin.
Meski banyak yang tidak suka, Wanita 32 th. itu mengatakan, kulit ayam sekarang menjadi makanan 'mewah' sekaligus favorit keluarganya.
Siti mengaku tidak dapat membeli daging sapi, daging ayam, atau ikan tiap-tiap hari dikarenakan pendapatan suaminya yang tak seberapa.
Beruntung tersedia kulit ayam yang dia dapatkan dari kantin di dekat sebuah sekolah di Kelantan.
" Saya mulai sayang dengan kulit ayam yang dibuang oleh kantin tersebut. Apalagi keluarga aku tak dapat membeli daging sapi, daging ayam, atau ikan tiap-tiap hari," katanya.
Karena itu dia terlalu bersyukur tersedia orang yang berbaik hati mengimbuhkan kulit ayam untuk diolah menjadi makanan. http://www.pokerpantai.org/
Siti jelas bahwa kulit ayam tidak baik bagi kesehatan. Tapi keluarganya tak memiliki pilihan dikarenakan miskin.
Ketiga anaknya yang masih kecil apalagi terlalu nikmati kulit ayam sisa tersebut sejak dua th. yang lalu.
" Semua anak aku yaitu Siti Aisyah (8 tahun), Norsyayidah Nafisah (6 tahun), dan Nor Syafiya Nadira (3 tahun), senang makan kulit ayam sejak dua th. lalu," katanya.
Sementara itu, Muhamad Zuhaidi mengatakan bahwa gajinya sebagai buruh tidak tetap. Dia terhitung perlu membayar sewa tempat tinggal mereka.
Meskipun tempat tinggal yang disewa udah reyot, Muhamad Zuhaidi tetap perlu membayar duit sewanya kira-kira 100 ringgit atau sekira Rp341 ribu sebulan.
" Yang paling perlu adalah keluarga aku dapat makan dan tetap sehat," katanya. Muhamad Zuhaidi menghendaki keluarganya dapat memiliki tempat tinggal sendiri suatu hari nanti.

No comments:
Post a Comment