Miliarder Habis Rp141 M Buru Alien di 1.300 Bintang, Hasilnya?

http://www.pokerpantai.org/
Keberadaan alien tetap jadi misteri bagi umat manusia. Pencarian alien dikerjakan dengan menghabiskan dana yang banyak.
Seorang miliarder asal Israel-Rusia, Yuri Milner, ikut mendanai program pencarian untuk menyatakan keberadaan alien. Selama 10 th. pencarian, Yuri menghabiskan dana sebesar US$10 juta lebih kurang Rp141 miliar di bawah organisasi Breakthrough Listen.
Pencarian dikerjakan menggunakan program Search for Extraterrestrial Intelliggence (SETI). Dalam pencariannya, SETI menyurvei sebanyak 1.327 bintang terdekat.
" Jelas tidak ada yang drastis di sana," kata Danny Price, seorang ahli astrofisika di University of California, Berkeley, penulis di jurnal The Astrophysical Journal.
" Tidak ada peradaban yang luar biasa maju yang mencoba menghubungi kami dengan pemancar yang sangat kuat," ujar Danny.
Danny mengatakan, tim bisa saja tidak menemukan apa pun kali ini. Tapi, Price mengatakan, bisa saja ada banyak penjelasan mengenai kurangnya isyarat yang dipancarkan.
Dia mengatakan, dia menduga, pencarian dikerjakan terhadap frekuensi yang tidak benar atau isyarat itu terganggu radio dari Bumi.
" Dalam banyak hal, SETI merupakan cerminan terhadap diri kami dan teknologi kami sendiri dan pemahaman kami mengenai fisika," kata Price.
Inisiatif pencarian alien diawali terhadap 2015. Pencarian terkait terhadap dua teleskop paling kuat di dunia.
Dua teleskop yang digunakan yaitu, teleskop Robert C Byrd Green Bank yang berdiameter 100 mtr. di Virginia Barat dan teleskop Parkes Telescope di New South Wales, Australia yang berdiameter 64 meter.
Dalam rilis knowledge teranyar mereka, para peneliti menganalisis 1 juta gigabyte knowledge di radio dan panjang gelombang optik. Penelitian itu untuk menyaksikan lebih dari seribu bintang di dalam 160 th. cahaya Bumi.
Seluruh katalog Info raksasa akan ada untuk umum di Breakthrough's Open Data Archive. Data itu menjadikan menjadikannya publikasi terbesar knowledge SETI.
Rusia inginkan mendobrak ilmu pengetahuan. Kepala Laboratorium Biofisika Sel dari Institute of Medical and Biological Problems of Russian Academy of Science, Irina Ogneva membeberkan target dari konsep `aneh` tersebut.
" Kami tetap jadi yang pertama di luar angkasa, dan inginkan manusia pertama yang lahir di luar angkasa jadi warga negara Rusia," kata Irina dikutip dari Daily Star, Kamis, 20 Juni 2019.
Tetapi, dia mengakui, sejauh ini kosmonot Rusia sudah menampik untuk menyumbangkan sperma yang diperoleh di area untuk belajar ilmiah. Dia menyebut, usaha penelitian bukan hanya sekedar permohonan patriotik semata.
“ Yang paling perlu bukanlah fakta (bagi bayi) untuk dilahirkan, namun (bayi yang) dilahirkan sehat," ucap dia.
Irina menyebut, target melahirkan anak di luar angkasa tetap sangat prematur. Tapi, dia mengatakan, kelahiran mamalia di area angkasa tetap terlalu mungkin terjadi.
“ Tapi, dari sudut pandang ethical dan etika, ini adalah percobaan, dan percobaan dengan embrio manusia," ujar dia.
Karena kurangnya sampel sperma dari luar angkasa, Irina mengakui angkasawan Rusia di Stasiun Luar Angkasa Internasional sudah menampik untuk bekerja sama.
“ Kami tetap mengalami hambatan moral, psikologis, dan etika," kata dia.
Sebuah fenomena langit yang cukup mencemaskan perihal dengan Bulan jadi percakapan hangat para ilmuwan di dalam lebih dari satu saat belakangan ini.
Menurut sebuah belajar penelitian baru, Bulan bisa saja akan tetap menyusut akibat kerap mengalami apa yang disebut dengan moonquake atau gempa Bulan.
Bulan disebut sudah mengalami gempa sebanyak 28 kali sejak th. 1969 sampai 1977. Dan para ilmuwan sudah menganalisis gempa Bulan tersebut.
Hasil asumsi ilmuwan mengenai gempa Bulan selanjutnya ternyata sangat mengejutkan. Karena ada bisa saja terdapat aktivitas tektonik di Bulan.
Menurut profesor geologi UniversityofMaryland, Nicholas Schmerr, dari 28 gempa Bulan, delapan di antaranya berasal dari 'aktivitas tektonik asli'. Artinya, ada pergeseran lempeng kerak di Bulan.
Jadi, gempa di Bulan terjadi bukan karena adanya benturan dengan asteroid atau runtuhan di bagian di dalam satelit Bumi tersebut.
Profesor Nicholas mengungkap bahwa sejumlah gempa yang terekam di dalam knowledge Apollo terjadi sama dengan sesar yang nampak di dalam misi LRO (Lunar ReconnaissanceOrbiter) NASA.
" Sangat bisa saja bahwa sesar itu tetap aktif sampai hari ini. Anda bisa saja tidak pernah mendengar aktivitas tektonik di mana pun jika di Bumi. Jadi, sangat menarik bahwa sesar itu tetap membuahkan gempa Bulan," kata Profesor Nicholas.
Gempa Bulan direkam oleh lima seismometer yang di tempatkan di permukaan Bulan selama misi Apollo 11, 12, 14, 15 dan 16. Jika di Bumi, gempa Bulan yang tercatat berada di dalam kisaran antara 2 dan 5 terhadap skala Magnitudo Momen.
Thomas Watters, kepala penelitian, menyebutkan bisa saja delapan gempa ini dihasilkan oleh pergeseran sesar. Karena adanya tekanan yang meningkat kala kerak Bulan dikompresi oleh kontraksi world dan kebolehan pasang surut.
" Ini menyatakan Bulan mengalami penyusutan, dan seismometer Apollo menyatakan Bulan tetap aktif secara tektonik," kata Thomas. http://www.pokerpantai.org/
NASA pertama kali menemukan Bulan menyusut terhadap th. 2010 kala menganalisis citra dari LRO. Mereka menemukan bahwa Bulan 'layu seperti kismis kala bagian dalamnya mendingin, membuahkan ribuan tebing yang disebut thrustfaults (dorongan sesar terhadap permukaan Bulan)'.
Kemudian kala dibandingkan dengan knowledge dari th. 60-an dan 70-an dengan knowledge th. 2010, tercipta algoritma baru untuk lebih sadar dari mana datangnya gempa Bulan tersebut.
Menurut penelitian yang diterbitkan di dalam jurnal ilmiah NatureGeoscience itu, Bulan diakui aktif secara tektonik lebih kurang 4,5 miliar tahun.
" Kami menyimpulkan bahwa jalinan dekat gempa bulan dengan thrustfaults muda, dengan dengan bukti masalah regolith dan gerakan batu besar di di dalam dan di dekat tebing sesar menyatakan Bulan aktif secara tektonik," bunyi abstrak penelitian tersebut.
Profesor Nicholas memberi tambahan temuan yang menarik ini jadi basic bagi manusia untuk menginjakkan kaki sekali kembali di Bulan.
" Kami belajar banyak dari misi Apollo, namun kami hanya mengenal permukaannya saja," pungkasnya.

No comments:
Post a Comment