Kisah Layangan Putus Viral, Ini Cerita Lengkap Istri Diam-Diam Dipoligami

Pantaipoker Dominokiu
Kisah tempat tinggal tangga seorang wanita yang populer di tempat sosial bersama judul " Layangan Putus" sedang jadi erhatian warganet sebagian hari terakhir.
Kisah itu diklaim sebagai pengalaman teristimewa seorang wanita pemilik akun facebook Mommi ASF, yang ia tuliskan di akun pribadinya itu.
Postingan yang menggegerkan dunia sosial tempat itu sebetulnya udah dihapus. Namun hingga kini kisahnya masih diperbincangkan netizen. Sebelum dihapus, sebagian warganet sebetulnya udah menyunting tangkapan layar (screenshoot) posting tersebut.
Ya, status panjang naratif itu berkisah mengenai tempat tinggal tangga pemilik akun Mommi Asf yang bubar lantaran sang suami diam-diam menikahi perempuan lain.
Fakta menyakitkan itu baru diketahui Mommi ASF sehabis suaminya tiba-tiba menghilang tak bisa dikontak terhadap tahun 2018 lalu.
Setelah dua belas hari menghilang bak ditelan bumi, sang suami kelanjutannya pulang. Tapi tak kunjung tersedia penjelasan dan keinginan maaf kepada istrinya itu.
Barulah setahun kemudian sang istri menemukan fakta mengejutkan di dalam handphone suaminya.
Bahwa sang suami diketahui udah menikah ulang dan dikala menghilang sepanjang 12 hari selagi itu, si suami sedang berbulan madu bersama istri muda di Turki.
Mommi Asf kemudian menuliskan mimpi jelek yang ia alami itu di Facebook. Ia mengklaim kisahnya ditulis berdasarkan fakta:
Selesai subuh, saya mencari suami, dambakan menggodanya. Semalam, ia tak masuk kamar melihatku, atau sebetulnya dia udah melakukannya, selagi saya tertidur lelap.
Kubuka kamarnya, sepi.
" Oh, kemungkinan belum pulang sholat subuh berasal dari mushola," batinku. Tapi, keluar kamar masih rapi. Selimut terlipat, bantal dan guling masih tersusun. Tidak keluar kasur yang habis ditiduri.
Aku bingung, suamiku tidak izin menginap di kantor. Kuambil ponsel dan menghubunginya. Tersambung, tapi tidak tersedia jawaban. Kuulangi hingga berkali kali . Nihil.
Kulihat jam udah menunjukan pukul 6 pagi, langit udah terang, gak kemungkinan dia di mushola sepanjang ini. Aku terasa jengkel, kutelepon supir kantor. Kucecar Selamet bersama pertanyaan.
“ Lho Mba, sampeyan kan, istrinya! Moso mas Arif ga tersedia ngabarin?” jawab Selamet kaget.
“ Kemana dia?”
“ Ga tau saya mba! Cuma nganter ke bandara tok wingi....”
Reflek kuperiksa brankas mini yang terletak dilemari. Pasportnya tidak ada. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalaku. Aku duduk dikamarnya mencari pentunjuk.
Semenjak anak keduaku lahir, sebetulnya suami lebih nyaman tidur dikamar ini. Kecil tapi tenang baginya, tidak terganggu suara tangis bayi.
Setiap pulang kantor seringnya malam hari, rutinitas kami adalah bercengkrama di area TV hingga lelah. Dia sering kadang mengajakku bercerita di kamar ini hingga terlelap.
Kemudian saya tukar ke kamar utama kami, sebab di sanalah anak anak kami tidur. A masih sering terbangun sedang malam berteriak mencariku, minta dipeluk.
Kusadari kameranya tidak ada. Kemarin, dia sebetulnya pamit dapat pemotretan untuk liputan motor BMW, sebab itu, koper cabinnya yang berisi kamera dibawa serta.
Tak tersedia pikiran aneh Aku yakin semua kalimat suamiku. Tapi, kenapa dia pergi tidak jujur padaku! Kemana dia?Aku ingat lagi, kemarin tidak tersedia yang aneh, tidak tersedia yang salah. Sebelum dia pergi berasal dari rumah, kami bercumbu mesraaaa sekali. Hubungan kami apalagi sedang hangat hangatnya. Dia sering menggodaku belakangan ini.
Dan saya sedang hobi menghimpun lingerie untuk menyenangkannya.
Kami sedang dorongan berolahraga agar lebih fit. Sehingga Ranjang kami hidup sekali. Terlebih lagi, saya terlampau yakin dia. Dia pemilik channel dakwah di youtube.
Mas Arif paham, menyentuh lawan type adalah haram baginya. Bahkan, menundukan pandangan terhadap wanita non mahrom adalah kewajiban. Aku yakin betul suamiku.
Hatiku berdebar menjemput suamiku dibandara. Akhirnya, sehabis 12 hari pencarian, dia mengabarkan dapat pulang. Mas Arif memintaku menanti dirumah. Tapi rasa khawatirku memuncak sudah. Aku tidak bisa duduk manis menunggunya di rumah. Segera kupacu mobil menuju bandara.
Teringat, 10 hari lalu, saya penuh kebingungan mencarinya, semua kemungkinan berkecamuk di kepalaku. Apakah ia pergi berasal dari tempat tinggal tanpa kabar untuk jihad? Apakah ia ke timur tengah? Karena salah satu ustadz kenalan kami tersedia yang pernah mengajaknya meliput ke Suriah selagi itu. Misinya untuk terhubung mata dunia bahwa Suriah butuh pertolongan.
Kutangisi niatnya selagi itu. Aku tak senang dia pergi ke timur tengah. Karena itukah, dia selagi ini pergi tanpa pamit? Atau apakah dia bermasalah bersama pihak bea cukai dan kemudian ditahan? Atau dia sedang terancam bahaya? Diculik dan diancam pihak lawan bisnis?
Aku tak yakin bersama semua firasat mengenai kepergiannya. Yang tersedia hanya kegelisahan yang luar biasa.
Sepuluh hari selanjutnya kelanjutannya teleponku diangkat olehnya.
“ Mbi saya titip anak anak" ujarnya buru buru.
“ Kamu senang kemana? Kamu senang kemanaaa?" cecarku.
“ Aku di Jakarta! Mas, pergi dulu. Kamu di tempat tinggal baik -baik serupa anak anak ya. Aku titip anak anak ya, Mbi. I love you."
bip bip bip... terputus.
Tidur ku tak tenang. Makanku tak nyaman. Duniaku berhenti berputar. Aku terus menanyakan kemana? Dimana? Kenapa bisa dia pergi? Apa yang disembunyikan dariku?
Rekan kerjanya kudatangi untuk mencari info, nihil. Kerabat yang berposisi AKBP, kupinta pemberian mencari nomer gawainya, gagal.
Nomor terdeteksi di tempat pelosok jawa tengah. Namun, kerabatku perlihatkan bahwa pelacakan satelit belum pasti akurat. Hingga Kucari hacker untuk menemukannya, tapi tetap tak tersedia hasil.
[ Mbi, sehaaat? Kamu harus sehat ya Sayang. Anak anak tadi nonton black panther, rindu anda banget] isi pesanku.
Mbi adalah panggilan sayang kami. Aku lupa apa yang menyebabkan kami saling memanggil Mbi. Mungkin berasal dari baby kemudian beralih jadi Mbi.
Hanya keluar centang satu, tak lama centang dua, tapi tak pernah centang itu beralih warna jadi biru. Pertanda tidak dibaca.
Kukirimi mas A foto dan voice note suara anak anak. Tak tersedia respon.
[Mbi, saya ga tau anda dimana, sedang apa, saya salah apa? Mbii, saya janji dapat sering masak, pulang ya, Mbi]
[Aku kebangun kepikiran kamu, dimana kamu, Mas?]
Seperti biasa, pesanku hanya centang saru, sebagian menit kemudian centang dua tapi, tak pernah jadi biru.
[Mbii, saya kejakarta sekarang! Aku tak hiraukan terkecuali harus hilang disana! Aku dapat mencari mu hingga ketemu!] Pesanku.
Kemudian dibalas.
[Jangan sayang, batalkan kepergianmu ke Jakarta. Aku dapat pulang besok!]
[Kapan?] balasku singkat.
[Besok malam, Sayang. Tunggu saya ya!]
Kutelepon dia, masih tak diangkat. Lalu kuhujani mas A bersama pesan singkat.
[Kirim tiket mu!]
kukirim berulang pesan itu hingga dia merespon.
[Citilink 24/2, jam 17.00. Tunggulah di rumah! Isya nanti, saya udah di rumah, Mbi] jawabnya.
Suasana hening di mobil. Dia menyetir dan saya duduk dikursi penumpang menatap jalan, tapi pikiranku entah kemana.
“ Mau makan?”
“ Kamu darimana?” jawabku
“ Ok. Kita berkata di rumah, ya."
Setiap dia terhubung obrolan saya terus menjawabnya bersama kalimat yang sama.
" anda darimana?"
Dia ganteng sekali, rapi, bersih dan wangi. Suamiku sebetulnya cenderung metroseksual, dia terlampau hiraukan dapat penampilan. Tapi, bukan itu yang membuatku jatuh cinta. Bukan fisik bukan pula harta.
Teringat selagi pertama kami menekuni bisnis ini, saya membantunya berjualan kartu perdana seluler kepada para bule di kuta, sambil kuliah. Menjajakan pulsa dan menyewakan handphone kepada para turis. Mas A yang mengajari saya untuk tangguh, mengenalkan arti kerja keras.
Romantisme keluar selagi uang kami tersisa sepuluh ribu. Mas A membeli dua bungkus nasi jinggo, masing masing seharga empat ribu. selagi dimakan ternyata udah basi.
Mas A tampak kecewa tidak bisa memberiku makanan yang layak.
Sisa uang dua ribu, dibelikan gorengan untukku. Itulah, satu satunya makanan yang masuk keperutku. Aku terenyuh sekali. Romantis!
Mobil kami memasuki rumah. Anak anak menyambut dan memeluknya. Mereka rindu sekali. Selesai bermain, A bergegas mandi. Dan saya menidurkan anak anak.
Setelah mereka terlelap saya duduk diruang tv menanti jawaban berasal dari bermacam pertanyaan belasan hari belakangan ini.
Tanganku lancang terhubung handphone A. Setelah pengakuannya yang lalu, saya masih belum berdamai bersama diriku. Perasaan hancurku menyebabkan enggan mengkaji atau menanyakan lebih jauh.
Aku menentukan mencari mengerti bersama tanganku sendiri. Pun A, sering kadang sosok yang dingin. Tidak sedikitpun dia berusaha mengajakku bicara, berharap maaf atau menenangkanku.
Ponselnya disembunyikan di atas rak buku. Tak mengerti airmataku mengalir. Kutemui ratusan foto mereka. Hatiku tersayat ... ngilu. Aku dalam kegelisahan yang terlampau terlampau selagi ia menghilang sepanjang 12 hari.
Api mas A tidak hilang. Dia hanya berhoneymoon di Cappadocia. Kota impianku.
Aku sebetulnya udah pernah pergi ke Turki selagi menunaikan ibadah umroh, bersamanya.
Tapi, kali itu kami tidak menyentuh Capadocia. Betapa remuknya hatiku melihat dia udah pergi kesana lebih pernah bersama istrinya yang baru. Istri muda yang baru 12 hari dinikahinya.
Aku tak kenal perempuan itu. Aku tak pernah bertemu perempuan itu. Yang kutahu berasal dari suamiku, wanita itu cantik dan muda.
Aku marah dan murka. Aku terasa dikhianati. Maaf berasal dari Mas A tak lumayan membuatku tenang. Ya Rabb... Ampuni aku.
Selesai mandi, saya langsung berpakaian. Ini mandi ke lima ku hari ini. Entah sebab gerah atau sebab kebutuhanku selagi ini. Menyenangkan sekali berada dibawah kucuran air.
Airmataku bias bersama jatuhnya air yang menyentuh wajah. Seperti di pijat, kutengadahkan wajahku menghadap shower. Mata, pipi, dan dahi terkena pancuran air terasa yaman sekali.
Aku udah segar, rapi dan wangi. Melangkah menuju kamar tidur, kulihat jam dinding udah menunjukan angka sebelas malam. Anak anak tersusun rapi terpejam dikasur.
Bukan saatnya tumbang, saya bukan layangan putus yang tak pasti arah. PR ku masih banyak, keempat anak ini punya masa depan yang indah.
Aku percayakan semua terhadap penopangku Alloh sang Maha Baik. Pantaipoker Dominokiu
Jauh dilubuk hati, doaku untuk mantan suami. Aku tidak bisa ulang menunaikan kewajiban sebagai seorang isteri untuknya. Dia formal bukan milikku sekarang, kulepaskan segala memori perjuangan cinta kami yang dulu.
Aku udah tidak terikat sebagai istrinya. Semoga ia diberi kesehatan, kelancaran dalam segala urusan. Bukan saatnya memaki. Sampai kapan pun,Aku tak boleh bermusuhan. Dia adalah bapak anak anakku. Kuselipkan namanya dalam doa doaku.

No comments:
Post a Comment