Sebelum Gempa, Jutaan Ikan di Cilacap Mati Misterius

pokerlegenda Warga Cilacap dan Kebumen baru saja merasakan guncangan gempa sebesar 5 Magnitudo, Senin, 14 Oktober 2019. Dua hari sebelum gempa tersebut masyarakat dihebohkan dengan kabar jutaan ikan mati dan terdampar di Pantai Jetis.
Kabar itu dibagikan account Facebook, Paijo Kbm. Akun tersebut mengunggah sembilan foto penampakan ikan mati yang terdampar.
Dalam info fotonya, dia mengabarkan bahwa ratusan ribu, bahkan barangkali jutaan ikan mati dan menepi ke pantai. Ia mengaku belum jelas style ikan yang terdampar. Yang jelas, semuanya sejenis.
“ Puluhan atau mugkin ratusan warga sekitaran Pantai Cemarasewu, Jetis. Cilacap, berbondong-bondong untuk menyita ikan-ikan tersebut,” tulis Paijo Kbm
Foto itu tunjukkan warga berusia tua-muda, manfaatkan karung beras menghimpun ratusan ribu ikan yang mati. Ada pula warga yang mengklaim mendapatkan satu mobil pick-up ikan terdampar.
Gempa berkekuatan 5,0 magnitudo mengguncang Cilacap, Jawa Tengah pada Senin, 14 Oktober 2019, pukul 18.33:58 WIB. Kedalaman gempa mencapai 10 kilometer.
Akun Twitter resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa berlokasi di 8.45 LS,109.28 BT.
Belum terdapat Info mengenai kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa ini.
Meski demikian, sejumlah warganet membagikan ketakutan yang terlihat gara-gara getaran gempa. Getaran gempa disebut jadi sampai Kebumen, Yogyakarta, Purworejo, dan Magelang.
Warga di Kecamatan Tanimbar Utara, Maluku resah akibat fenomena terdamparnya ratusan ikan beragam style biota laut di pantai Desa Lelingulan, pada 13 Oktober 2019 lalu.
Kejadian langka tersebut mengakibatkan spekulasi ada kaitan dengan gempa yang menguncang disusul sebagian getaran perut bumi di Maluku sebagian waktu lalu.
Menanggapi fenomena tersebut, pakar tsunami Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari, meyakinkan belum tersedia keterkaitan antara biota laut permukaan dengan aktivitas kegempaan dari laut yang umumnya bersumber pada lempeng dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter.
" Biota-biota yang sepanjang ini seringkali mati didalam kuantitas besar sesudah itu terdampar di pantai adalah biota permukaan atau biota laut dangkal-karang, bukan biota laut dalam," ujar Muhari, Senin, 14 Oktober 2019.
Muhari menjelaskan, fenomena terdamparnya biota laut dangkal sering kali disebabkan fenomena upwelling.
Fenomena ini adalah arus naik ke permukaan yang umumnya mempunyai planton atau zat hara yang jadi makanan biota laut dangkal, bukan merupakan dampak aktivitas lempeng atau sesar.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengatakan, BMKG mencatat 1.516 gempa susulan pascagempa Maluku M 6,5 yang terjadi pada 26 September lalu.
Dari kuantitas tersebut, 175 gempa susulan dirasakan oleh warga. Terkait dengan gempa tersebut, perkembangan terkini per 14 Oktober 2019 BNPB mencatat 148.619 warga tetap mengungsi.
Total tempat tinggal rusak di wilayah terdampak, yakni Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat dan Kota Ambon mencapai 6.355 unit dengan rincian keseluruhan rusak berat 1.273 unit, rusak tengah 1.837 unit dan rusak gampang 3.245 unit.
Korban meninggal tercatat 41 jiwa dan mereka yang tetap terluka sebanyak 1.602.
Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat tetap melaksanakan upaya penanganan darurat. Sedangkan Provinsi Maluku dan Kota Ambon udah melaksanakan upaya-upaya transisi darurat ke pemulihan.
Ribuan ikan ditemukan didalam keadaan mati dan terdampar di pantai wilayah Kecamatan Litimur Selatan, Kota Ambon, Provinsi Maluku, sejak Sabtu 14 September 2019.
Warga Desa Laehari, Vin Maitimu, jadi khawatir dan menduga fenomena ini sebagai pertanda bakal terjadi tsunami. Sehingga pada Sabtu malam, mereka bersiap menyelamatkan barang bernilai dan dokumen penting.
" Bahkan waktu malam hari senantiasa berjaga-jaga agar terganggu waktu tidur gara-gara mengkuatirkan barangkali tsunami melanda secara tiba-tiba," ujar Vin.
Menurut Vin, belum tersedia penjelasan resmi dari Pejabat Kepala Desa Leahari, Jhon Sitanala, dan perangkat desa terkait. " Saya konfirmasi ke Pejabat Kepala Desa diberitahu bahwa staf Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Ambon dengan Balai Karantina Ikan Ambon dan UPTD terkait udah menyita sampel ikan yang mati untuk diteliti," ujar dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon, Steven Patty, mengatakan, dinas dengan Balai Karantina Ikan Ambon dan Unit Pelaksana Teknis Daerah tetap meneliti penyebab ribuan ikan di pantai Desa Leahari dan Rutong.
" Dugaan waktu gara-gara ledakan getaran yang kuat, agar ikan-ikan mati dengan keadaan tulang retak, dan mata copot," ujar pokerlegenda.
Dia menambahkan, masyarakat setempat mengaku mengkonsumsi ikan-ikan tersebut. Namun belum tersedia laporan ada warga yang keracunan. " Sehingga kami tetap terus melaksanakan analisa kematian ikan ini," kata dia.
Sementara itu, account Facebook, Glen Kailuhu Leiwakabessy mengunggah foto ikan-ikan yang mati di pantai.
" Sudah dua hari ikan mati terdampar di Pantai Rutong dan Leahari, belum jelas penyebabnya," tulis Glen.

No comments:
Post a Comment