Perjuangan Terakhir Sang Loper Koran Penghuni Rumah Reyot - PANTAIPOKER

Breaking

Thursday, October 24, 2019

Perjuangan Terakhir Sang Loper Koran Penghuni Rumah Reyot

Perjuangan Terakhir Sang Loper Koran Penghuni Rumah Reyot

Perjuangan Terakhir Sang Loper Koran Penghuni Rumah Reyot




Daftar di sini
Berkurangnya pembaca koran tak membatasi Agussalim, 35 tahun, untuk tetap menjualnya. Koran menjadi bisnis terakhirnya untuk bisa menghidupi keluarganya.

Demi capai rupiah berasal dari berjualan koran dia sering terlambat makan dan kelelahan. Selain akibat pekerjaannya, kondisi ekonomi Agussalim termasuk memprihatinkan.

Bayangkan saja, bersama isti dan tiga orang anaknya, Agussalim tinggal di rumah reyot berukuran 4 x 4 meter.

Akibat kelelahan dan tak tertata makan, Agussalim sempat dibawa ke rumah sakit pada 2012. Rupanya, inilah kali paling akhir Agussalim menginjakkan kaki di rumah sakit. Keterbatasan ongkos menjadi alasannya tak memperoleh kembali perawatan sehabis itu.

Kondisi yang memicu sakit yang diderita Agussalim makin parah. Pekan lalu, Agussalim menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiara, istri Agussalim, yang ditemui bercerita tentang kehidupan keluarganya.

" Ini rumah kami sendiri yang buat, hasil berasal dari saya dan papa menjual koran dan tisu di lampu merah," kata Tiara.

Rumah ituberdiri di atas lahan milik seorang warga Kendari yang berbaik hati meminjamkan tanah. Agussalim meminta berasal dari gubuk reyot itu meraka bisa punya rumah sendiri.

" Tapi, belum sempat punya rumah, Bapak sudah meninggal. Sekarang saya melindungi ketiga anak saya," ucap dia.

Tiga anak Tiara dan Agus tetap bersekolah. Putra sulungnya, Herman Lili, 13 tahun menapaki kelas 3 sekolah dasar (SD). Adiknya, Rika, 12 tahun, duduk di kelas 2 SD, saat itu bungsu, Rustam Marzuki, 6 tahun, belum bersekolah.

Meski hidup di dalam kesusahan, Tiara enggan meminta-minta. Dia lebih baik bekerja mandiri.

" Kami lebih baik kerja sendiri daripada berharap orang," ujar dia.

Untungnya, beberapa orang tetangga sering menopang kehidupan keluarga Agussalim.

" Kalau tetangga yang bawa, ada sayur, ikan, dan nasi," ucap Daftar di sini.

Dua hari sejak kematian Agussalim, pihak kantor tempatnya menjual koran termasuk belum berkunjung menjenguk kondisinya. Hanya Kapolres Kendari, yang berkunjung bersama bagian dan pengurus Bhayangkari.

" Saya tahunya berasal dari media sosial, bagian dan teman-teman wartawan," kata Kapolres Kendari, AKBP Jemi Junaidi.

Kapolres Kendari, menjelaskan akan berkoordinasi bersama Pemkot Kendari untuk mengimbuhkan solusi bagi keluarga penjaja koran ini. Sebab, sejak pertama menginjakkan kaki di gubuk milik Tiara dan suaminya, Kapolres segera tersentuh.

Bahkan, kaki istri Kapolres Kendari, Siska, sempat terperosok begitu masuk ke di dalam rumah loper koran ini. Lantai papan yang sudah lapuk tidak bisa mencegah berat empat orang diatasnya.

No comments:

Post a Comment

Viral Pemuda Aniaya Tukang Sol Sepatu dengan Tendangan Kung Fu hingga Terpental

Viral Pemuda Aniaya Tukang Sol Sepatu dengan Tendangan Kung Fu hingga Terpental Viral Pemuda Aniaya Tukang Sol Sepatu dengan Tendangan Ku...