Ikan dugong terjerat jaring nelayan di Kepulauan Kei
Ikan dugong terjerat jaring nelayan di Kepulauan Kei
Dua ekor dugong ditemukan mati terjerat jaring nelayan di perairan sebelah barat Ur Pulau, Kepulauan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara.
Seorang nelayan di Ur Pulau Kei Amus Rumheng mengisahkan kronologis dua ekor ikan duyung yang terjerat jaring benang dengan lebar mata jaring 3 inch dipasang di tengah laut pada 21 Oktober 2019.
"Saya berkeinginan mengusung jaring dan tak sengaja mengejar dua ekor dugong yang tercantol dalam jaring bycatch atau tangkapan sampingan," katanya, Rabu.
Ia mengatakan, ketika jaring dinaikkan, dua ekor dugong tersebut sudah mati dengan luka lecet di unsur tubuh dan ekornya, selanjutnya dirinya membawa dua ekor dugong ke pesisir Ur Pulau dan meminta pertolongan warga.
"Saya pikir fauna ini bila masih hidup saya lepas, namun sayangnya telah mati sampai-sampai saya meminta pertolongan ke di antara warga Petrus Rahakauw untuk mengadukan kejadian pada instansi bersangkutan supaya ditindaklanjuti," katanya.
Laporan yang diterima selanjutnya ditindaklanjuti Kepala Resort KSDA Tual Justinus Yoppi Jamlean bareng Pangkalan PSDKP Tual, Dinas Perikanan Maluku Tenggara dan WWF-Indonesia menuju tempat kejadian.
Setelah menempuh perjalanan tidak cukup lebih satu jam, tim pengungsian memulai proses pemungutan data morfometri dugong, interview kronologi kejadian lantas proses pembinasaan bangkai.
Diduga dua satwa dugong itu adalahinduk betina dan anak jantan dengan ukuran setiap panjang moncong kelekukan pada pangkal ekor 260 cm dan 207 cm.
Project Executant WWF Indonesia Inner Banda Arc Subseascape, Andreas Hero Ohoiulun menjelaskan, perairan Kepulauan Kei adalahrumah yang kaya akan ragam ragam spesies laut yang estetis dan kharismatik.
Aneka aneka spesies laut tersebut tergolong spesies laut yang langka dan dibentengi seperti penyu, paus, lumba-lumba, dugong atau duyung dan lainnya.
Keberadaan spesies langka dan dibentengi di Kepulauan Kei menjadi potensi untuk menambah pengembangan sektor pariwisata bahari.
"Karena tersebut perlu penambahan pengetahuan dan kesadaran masyarakat bakal pentingnya eksistensi dan kelestarian terhadap spesies langka yang dilindungi, sehingga dibutuhkan kerja sama dan kepedulian seluruh pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, figur adat, dan organisasi peduli lingkungan lainnya," katanya.


No comments:
Post a Comment