Demi Kirim Uang ke Ibu, Habil Masak Nasi di Kantor

http://www.pokerpantai.org/
Kita pasti bakal melaksanakan yang paling baik untuk keluarga, khususnya orangtua. Bahkan sekiranya wajib berkorban, kami bisa saja tetap melakukannya.
Seperti kisah Habil. Pria asal Malaysia ini sudi hidup seadanya demi sanggup menabung untuk dikirimkan kepada ibunya di kampung.
Kisah mengharukan Habil dibagikan Azri Walter di account Facebook. Menurut Azri, Habil merupakan keliru satu karyawan yang bekerja di kantornya.
Azri secara tidak sengaja menjumpai Habil di kantor kala bakal naik ke ruangannya. Saat terhubung pintu, Azri menyaksikan tidak tersedia satupun karyawan tapi lampu masih menyala.
Dia sempat merinding, mengira tengah menyaksikan hantu. Apalagi, Azri sempat mendengar nada di bawah meja.
" Tetapi, saya beranikan diri menyaksikan apa yang tersedia di sana," kata dia.
Betapa terkejutnya Azri mendapati Habil duduk di bawah kursi bersama dengan rice cooker. " Apa yang kamu lakukan, Habil? Masak nasi atau makanan?" tanya Azri.
" Maaf, Pak, saya matang nasi karena belum makan," jawab Habil muncul ketakutan.
Azri sempat bingung bersama dengan jawaban Habil. Karena, dia th. Habil baru saja sanggup uang 1000 ringgit, setara Rp3,35 juta, pekan ini dan mengapa dia tidak makan di restoran bawah kantor.
" Uang itu bakal saya berikan ke ibu. Meskipun dia tidak meminta uang pada saya, saya hanya menjadi wajib melakukannya. Ibu sanggup pakai uang saya untuk membeli baju, makanan dan apapun untuk adik saya juga," kata dia.
Rupanya, ibu Habil adalah orangtua tunggal. Ayah Habil udah meninggal beberapa th. lalu. Habil sendiri menjadi bekerja untuk mendukung keluarga sementara dia masih berusia 19 tahun.
" Ini bukan apa-apa, Pak. Saya tidak memahami sampai kapan ibu saya hidup, jadi selama dia masih hidup, saya hanya dambakan membuatnya bahagia. Saya tidak mempunyai banyak komitmen dan saya sanggup mencari ulang uang itu," kata Habil.
Penjelasan Habil sebabkan Azri tersentuh dan memeluknya. Dia juga meminta Habil makan siang dengannya dan pergi ke bawah untuk belanja beberapa makanan enak untuk makanannya.
Azri mengaku dia banyak belajar dari interaksinya bersama dengan karyawannya. Dia pun jadi makin lama rendah hati.
Faye Ares bisa saja tidak bakal membiarkan perihal sementara disapa seorang pengemis tua di depan sebuah pusat perbelanjaan.
Melalui Facebooknya, mahasiswi asal Filipina ini bercerita sementara hendak belanja, tiba-tiba seorang pengemis menyapanya dari belakang.
Dengan sopan, pengemis tua itu menjelaskan terkecuali dia tidak minta uang, tapi makanan karena udah lapar.
" Jangan marah ya, maaf mengganggu. Saya tidak minta uang, hanya sudi makan karena nyata-nyata lapar," kata pengemis itu.
Faye terkejut karena langkah papa tua itu meminta tidak layaknya pengemis lainnya. Apalagi pengemis itu bicara di dalam bhs Inggris yang amat fasih.
Karena menjadi kasihan, Faye kelanjutannya mengajak papa tua itu makan di restoran cepat saji di pusat perbelanjaan itu.
Gadis Filipina itu juga dambakan mengorek rahasia perihal pengemis berusia 70 th. yang ternyata fasih berbahasa Inggris itu.
Setelah berbincang, Faye terkejut karena papa tua itu adalah lulusan Universitas Ateneo Manila jurusan Ekonomi.
Lebih mengejutkan lagi, papa bernama Jansen Locsin itu pernah jadi dosen di Universitas Filipina.
Dia pernah berbisnis di bidang perdagangan mata uang asing sebelum saat kelanjutannya jatuh bangkrut.
Jansen menjelaskan dia ke Cebu untuk menjalankan bisnisnya. Tetapi sayang, bisnisnya gagal.
Karena tidak tersedia uang tersisa sedikitpun, Jansen terlunta-lunta di Cebu dan tidak sanggup ulang ke Manila.
Di akhir pertemuan itu, Faye memberikan sebotol air minum dan uang 100 Peso atau Rp25 ribu kepada Jansen. http://www.pokerpantai.org/
Awalnya Jansen menampik karena malu. Namun Faye memaksa Jansen untuk menerima pemberiannya itu.
Dalam tulisan itu, Jansen juga menasihati Faye supaya belajar nyata-nyata karena ilmu itu amat penting.
Selain itu, Faye juga berpesan supaya tidak menilai orang dari penampilan luarnya karena kami tidak memahami kehidupan sebenarnya orang itu.

No comments:
Post a Comment