Demi Ekonomi, Swedia Tak Lockdown Saat Pandemi, Indonesia Mau Meniru? - PANTAIPOKER

Breaking

Sunday, May 17, 2020

Demi Ekonomi, Swedia Tak Lockdown Saat Pandemi, Indonesia Mau Meniru?

Demi Ekonomi, Swedia Tak Lockdown Saat Pandemi, Indonesia Mau Meniru?

Demi Ekonomi, Swedia Tak Lockdown Saat Pandemi, Indonesia Mau Meniru?

w644-6
Konon tak ada fomula tepat untuk hadapi pandemi virus korona baru COVID-19. Perdebatan tetap konsisten terjaid apakah lockdown atau menghentikan kegiatan sama sekali adalah ketetapan tepat, khususnya karena efek ekonomi yang muncul.

Swedia adalah salah satu negara yang memilih tidak lockdown atau karantina ketat demi menyelamatkan ekonomi. Pemerintahnya memilih mewajibkan penduduk merawat jarak didalam kegiatan sehari-hari. http://128.199.71.150/pantaipoker/

Swedia juga dituding mengejar herd immunity. Yakni membebaskan banyak orang terekspos virus agar makin lama banyak yang miliki kekebalan tubuh terhadpa penyakit. Sebuah langkah yang kemungkinan besar mengakibatkan banyak kematian sebelum akan tercapainya herd immunity tersebut.

Namun, berhasilkah Swedia?

Pertanyaan ini yang digali dari presenter Trevor Noah waktu mewawancarai Kepala Penanganan Penyakit Menular Swedia, Anders Tegnell. Wawancara ini sedang viral dan jadi pembahasan di seluruh dunia.

Swedia memilih mempercayakan masyarakatnya bikin merawat diri. Menerapkan aturan merawat jarak, tidak berkerumun, dan mereka yang sakit meskipun gampang wajib berdiam diri di rumah. Mereka yang sakit dan berdiam diri di rumah bakal mendapatkan pemberian dan selalu digaji.

Pada wawancara yang ditayangkan terhadap 6 Mei, Tegnell yang sedang berada di stasiun kereta mengatakan Swedia memilih menyita langkah yang melawan arus. Ketimbang menghentikan seluruh kegiatan masyarakat, kata Tegnell, Swedia memilih menyetop kegiatan dan titik-titik di mana penularan bisa terjadi.

Tegnell mengatakan, negaranya memilih melihat penanganan pandemi tidak dari sisi kesehatan saja, tetapi secara menyeluruh pertimbangkan seluruh aspek. Namun kuncinya adalah sebabkan penduduk bertanggung jawab merawat diri dan lingkungannya.

Pemerintah Swedia fokus kepada lokasi-lokasi yang berpotensi berjalan penularan virus korona. Restoran misalnya, jadi perhatian dan diperintahkan untuk tidak benar-benar padat pengunjung.

Apakah Swedia terasa sukses? Tegnell terasa tidak sepenuhnya, karena terkecuali melihat jumlah kematian maka angkanya mencemaskan.

Negara dengan 10 juta penduduk itu pekan ini melaporkan lebih dari 28 ribu masalah positif Covid-19 dan sedikitnya 3.500 kematian. Jauh lebih tinggi ketimbang ke-2 negara Skandinavia lainnya yang menerapkan lockdown ketat sejak awal. Denmark melaporkan kira-kira 10 ribu kasus, sedangkan Finlandia melaporkan 6 ribu.

Swedia sebenarnya miliki jumlah penduduk yang lebih banyak ketimbang ke-2 negara Skandinavia lainnya, tetapi rasio warga yang terinfeksi dengan jumlah populasi total juga selalu lebih tinggi. Kematian tertinggi berjalan terhadap warga lanjut umur yang tinggal di panti werdha.

Kaum lansia sebenarnya tidak banyak terlihat rumah, tetapi pemerintah Swedia diakui kurang merawat mereka agar penegak hukum terasa bergerak menyelidiki kematian tak tertanggulangi akibat COVID-19 di kalangan lanjut umur tersebut. Kini Swedia terasa memfokuskan diri merawat kaum lansia dengan menyimpan lebih banyak anggaran bikin menambah perlindungan.

Namun sisi positifnya, kata Tegnell, sekolah selalu buka. Lalu, kata dia, orang selalu bisa bekerja. "Kehilangan pekerjaan itu justru lebih beresiko bikin kesehatan," ujarnya.

Tegnell meyakini virus korona tidak bakal menghilang sama sekali. Karenanya ia meminta dengan 25 prosen saja warganya miliki kekebalan terhadap COVID-19 maka itu sudah bisa menghambat laju penyerabaran agar bermacam macam pelonggaran lebih lanjut terhadap pembatasan bisa dijalankan.

Trevor Noah lalu bertanya, apakah Swedia terasa keputusannya tepat mengingat tingginya angka kematian itu. Bahwa angka kematian itu sepadan dengan selalu dibukanya sekolah dan tempat kerja.

Tegnell mengatakan, mereka tak dulu menduga angka kematiannya setinggi itu. "Kami memperkirakan bakal ada banyak orang yang bakal sakit, tetapi angka kematian itu juga mengejutkan kami."

Kesimpulan

Apakah negara lain bisa mengikuti langkah Swedia dengan selalu mengakses sekolah dan tempat kerja dengan syarat physical distancing yang ketat?

Tegnell mengatakan negara lain bisa saja mengadopsi lebih dari satu cara-cara Swedia. Namun ia memastikan ada prasyarat berat yang wajib terpenuhi: tingkat kepercayaan penduduk terhadap pemerintah. "Menumbuhkan kepercayaan penduduk terhadap otoritas kesehatan butuh waktu lama," ujarnya.

Ia menjelaskan, penduduk Swedia miliki kepercayaan tinggi terhadap otoritas kesehatan. Baginya ini penting karena kepercayaan itu sebabkan publik benar-benar mendengarkan dan mematuhi bermacam saran kesehatan yang dikeluarkan pemerintah. "Situasinya tidak sama dengan di banyak negara di mana masyarakatnya menolak bahkan memberontak terhadap saran kesehatan dari pemerintah."

Intinya, terkecuali ngin mengikuti Swedia maka penduduk wajib tekun menjalankan langkah-langkah menghambat penyebaran virus. Kedua otoritas kesehatan wajib dipercaya agar bermacam imbauannya dipatuhi.

No comments:

Post a Comment

Viral Pemuda Aniaya Tukang Sol Sepatu dengan Tendangan Kung Fu hingga Terpental

Viral Pemuda Aniaya Tukang Sol Sepatu dengan Tendangan Kung Fu hingga Terpental Viral Pemuda Aniaya Tukang Sol Sepatu dengan Tendangan Ku...