Lebaran di Luar Angkasa - PANTAIPOKER

Breaking

Thursday, April 2, 2020

Lebaran di Luar Angkasa

Lebaran di Luar Angkasa

Lebaran di Luar Angkasa



Pantaipoker Ceme - Pemandangan itu tak biasa. Di ruang sempit, pria itu sholat bersama kaki terikat tali. Tubuh setengah melayang. Limbung, tak seimbang. Awak jangkung itu tak tegak berdiri. Agak condong ke depan.

Semua gerakan lamban. Rukuk susah. Sujud tak dapat sama sekali. Jangankan dahi, telapak tangan pun tak dapat menyentuh lantai. Duduk juga tak sempurna. Hanya dapat menekuk lutut alakadarnya.

Bukan di masjid. Tidak pula di surau. Pria itu sedang sholat di di dalam pesawat lagi alik Discovery. Wahana ruang angkasa punya Amerika Serikat. Dan, pria yang sedang sholat itu adalah Sultan bin Salman. Pangeran Arab Saudi.

Pada 17 Juni 1985 itu, Sultan bin Salman mencetak sejarah. Tidak cuma untuk negaranya, namun untuk dunia Islam. Saat masih berusia 28 tahun itu, dia jadi astronot Muslim pertama yang menjelajah luar angkasa.

Tiga dasawarsa silam itu, Pangeran Sultan amat jadi ‘selebriti’. Jutaan manusia di jazirah Arab dan negeri-negeri Muslim memaku mata mereka ke layar televisi. Menyaksaikan keberangkatan sang pangeran ke luar angkasa.

Bukan melancong. Tidak pula untuk senang-senang. Sultan bin Salman membawa misi. Dia mengantar Arabsat, satelit komunikasi seharga US$40 juta punya 21 negara Arab, ke orbit.

Tak cuma mendokumentasikan peluncuran Arabsat, Pangeran Sultan juga lakukan sejumlah percobaan ilmiah. Di ruang tanpa gravitasi itu, dia menguji karakter air dan minyak yang tak dapat menyatu di Bumi.

Pangeran Salman juga diberi tugas memotret wilayah Saudi dari angkasa. Foto itu jadi bahan perbandingan hasil penginderaan jarak jauh oleh satelit. Hasilnya dipakai untuk eksplorasi minyak, air, dan struktur bukit pasir.

“ Ini pekerjaan yang sangat, amat bagus,” kata Sultan bin Salman sehabis mendarat ke Bumi selagi itu, sebagaimana dikutip The New York Times.

Tahun itu, Pangeran Sultan bak pahlawan. Saat pulang ke Saudi sehabis misi itu, dia disambut parade lautan manusia. Wajahnya tergambar di kaos-kaos seluruh orang yang berpawai menyambutnya.

Sultan sesungguhnya keturunan ningrat. Dia keponakan Raja Fahd bin Abdul Aziz Al Saud, yang berkuasa di Saudi selagi itu. Tapi darah biru tak otomatis membawa dampak dia ditunjuk langsung untuk misi STS 51G ini.

Raja Fahd pun mula-mula tak rela berikan izin. Namun Pangeran Sultan tidak menyerah. Pada sang paman dia berkata, “ Saya mempunyai hak untuk maju dan Mengenakan keahlian untuk berkarya.” Raja Fahd pun luluh.

Pangeran Sultan wajib ikut seleksi ketat. Pilot pesawat tempur paling baik Saudi ini lolos di pada 20 rekan sejawat. Tahap berikutnya, cuma dia yang terpilih. Saat mengikuti tes itu, pria yang lahir pada 27 Juni 1956 ini sesungguhnya telah mengantongi lebih dari seribu jam terbang.

Tak mudah. Itulah jalan Pangeran Sultan jadi awak pesawat Discovery. Sepuluh pekan wajib dia habiskan di Pusat Antariksa Lyndon B. Johnson NASA di Houston. Di sanalah dia meniti pelatihan keras. Digembleng siang dan malam.

Latihan semakin berat dikarenakan memasuki bulan Ramadan. Pangeran Sultan tak rela batal puasa. Dengan menghindar lapar dan haus, dia hadapi seluruh latihan itu.

“ Houston mempunyai cuaca panas yang lembap dan selagi siang yang panjang, yang membawa dampak puasa keras, namun aku mengambil keputusan untuk berpuasa,” ujar dia.

Sebenarnya, grand mufti Saudi memberinya anjuran untuk tidak berpuasa sepanjang ikut latihan. Memang untuk keadaan spesifik diperkenankan menunda puasa. Namun dia pilih puasa. “ Saya privat bersikeras berpuasa selagi latihan.”

Para pelatih pun menawarkan pergantian jadwal latihan, sesuaikan puasa sang pangeran. Tapi lagi-lagi dia menolak. “ Meskipun cuaca buruk, kita bertekad untuk mengikuti peraturan dan jadwal pelatihan yang ketat,” ujar Pangeran Salman.

Waktu latihan wajib dijalankan 16 hingga 17 jam sehari. Saban hari Pangeran Salman baru hingga di rumah selagi hari telah larut. Dalam keadaan belum berbuka puasa. “ Kami biasanya tiba di rumah kurang lebih pukul sembilan malam sehabis hari yang melelahkan,” tutur dia.

Bukan langsung tidur. Dia masih wajib menyelesaikan pekerjaan rumah yang dibawa dari tempat latihan. Harus mengerjakan setumpuk laporan hasil latihan.

“ Kami biasa berbuka puasa pukul sepuluh malam. Itu makan pertama kita sepanjang hari, sambil memeriksa laporan,” tambah Pangeran Sultan.

Tidur pun tak teratur. Hampir saban malam dia tertidur di atas sofa. Tak sempat ubah ke kasur dikarenakan terlelap selagi mengerjakan laporan. “ Dan kita jarang bangun untuk sahur.”

Meski demikian, Pangeran Sultan selalu berkonsultasi bersama dokter NASA. Dia menginginkan menegaskan puasa yang dijalani tak berpengaruh pada keadaan tubuhnya sebelum saat meluncur ke luar angkasa.

Hasilnya, tubuhnya sehat. Dinyatakan fit untuk dikirim ke Pusat Antariksa Kennedy untuk meniti tujuh hari karantina sebelum saat lakukan perjalanan ke luar angkasa.

Perjalanan sesungguhnya di mulai Subuh itu. Tepat 29 Ramadan 1405 Hijriyah. Tujuh kru, juga Sultan bin Salman, berarak menuju ke pesawat lagi alik yang telah nangkring di tempat peluncuran. “ Peluncuran dijalankan pada hari terakhir Ramadan dan ini amat istimewa,” kata Sultan.

Sebelum meluncur, Pangeran Sultan sholat Subuh. Tapi sayang dia lupa membawa perlengkapan ibadah. Saat itulah tidak benar satu teknisi mengimbuhkan selembar busana dan memintanya menggelar busana itu di lantai sebagai sajadah.

“ Peristiwa itu amat menyentuhku,” ujar Sultan. Dia menyadari betul, tingkah laku baik dapat mendapat balasan baik pula dari orang lain. Untuk mendalami ilmu ilmu tak memandang perbedaan agama dan latar belakang.

Masuklah Pangeran Sultan dan enam awak lain ke pesawat lagi alik. Latihan keras sesungguhnya telah dijalani. Semua mental telah dihimpun. Tapi, rasa khawatir selalu saja menggerayanginya.

“ Ketakutan kami, pesawat tidak meluncur. Khususnya sehabis seluruh prosedur dilakukan,” kata dia.

Matahari telah merekah. Sudah pukul tujuh. Pesawat lagi alik di Kennedy Space Center, Florida, itu telah siap diluncurkan. “ Sebelum meluncur, mesin meraung semakin keras,” tutur Sultan.

Deru mesin roket pendorong semakin kencang. Asap mengepul di tempat peluncuran. Semakin tebal. Hitungan mundur dari sepuluh dimulai. Perlahan, wahana raksasa itu terangkat ke udara. Makin tinggi. Melesat, menembus angkasa.

Pangeran Sultan tak dapat mengabaikan peluncuran itu. Dia masih ingat betul selagi kesulitan bernapas. Sekali menghirup udara, lantas menahannya untuk dikeluarkan perlahan.

Tak cuma itu. Getaran pesawat pun mengguncang tubuh. Terasa amat kuat. “ Semua itu pengalaman yang tidak terlupakan,” tambah dia.

Namun seluruh beralih selagi roket pendorong lepas. Suara bising reda. Getaran tidak lagi mengguncang badan. Yang terasa hanya kesunyian. Mereka telah tiba di luar angkasa.

“ Pertama kali yang aku memandang adalah kacang yang terlepas dan terbang di depan mata saya,” kata Sultan. Karena telah tak tersedia getaran, mereka melepaskan sabuk pengaman. Kemudian, melayang.

Pangeran Salman sesungguhnya berada di luar angkasa. Tapi dia tak pernah melepaskan kewajiban sebagai Muslim. Dia selalu sholat. Juga puasa dikarenakan masih di dalam bulan Ramadan.

Kondisi luar angkasa telah pasti tidak serupa bersama di Bumi. Di luar angkasa itu, matahari terbit dan tenggelam cuma di dalam 45 menit sekali.

Karena itulah dia berkonsultasi bersama grand mufti Saudi. Dia menghendaki anjuran langkah wudu, sholat, hingga puasa dia konsultasikan. “ Saat aku menyampaikannya ke grand mufti, dia bercanda, ‘Kamu dapat berpuasa cuma di dalam selagi dua hari saja’,” kata dia.

Seperti Muslim di Bumi. Pangeran Sultan juga tunggu hari Lebaran. Dia memantau informasi di Bumi. Dari radio komunikasi dia menyadari bahwa negerinya telah masuk Idul Fitri. Ramadan telah berakhir.

“ Teman astronot menawari aku kurma untuk berbuka puasa,” kata Pangeran Sultan. Tapi dia tak langsung buka. Sebab, matahari di Florida belum terbenam. Pangeran Sultan mengfungsikan selagi di titik peluncuran sebagai acuan.

“ Para cendekiawan berikan menyadari aku bahwa aku dapat berbuka puasa bersama mengacu pada selagi di tempat peluncuran, di mana aku mengawali puasa. Kami meluncur dari Florida,” tutur Pangeran Sultan.

Setelah matahari di Florita terbenam, pangeran Sultan berbuka. “ Saya makan kurma dan minum air. Saya lantas sholat Id.”

Berbeda bersama keputusan Saudi. Hari itu Pangeran Sultan tak dapat memandang hilal. Dia baru memandang bulan baru pada hari ke dua Idul Fitri. Temuan itu dia laporkan ke ilmuwan Saudi.

Menurut laman Arab News, sehabis lakukan penelitian yang hati-hati, otoritas Saudi kelanjutannya menunjukkan tersedia satu hari Ramadan yang terlewat. Sehingga di sesudah itu hari warga Saudi diimbau berpuasa satu hari sebagai penggantinya.

Tak cuma puasa dan Idul Fitri. Saat berwudu pun Pangeran Salman mengfungsikan langkah khusus. Dia cuma mengfungsikan handuk basah yang diusap ke sejumlah anggota tubuh untuk bersuci. Dalam pesawat lagi alik yang melayang di ruang tanpa gravitasi itu sesungguhnya persediaan airnya terbatas.

Jika memandang video dokumentasi sepekan perjalanan Pangeran Salma muncul betul aktivitas kesehariannya. Mulai sholat bersama kaki terikat hingga membaca Alquran mini yang melayang. Selama sepekan di luar angkasa itu, Pangeran Sultan dapat mengkhatamkan Kitab Suci ini.

Tugas Pangeran Sultan boleh saja dipandang sebelah mata. Tak vital untuk misi itu. Tapi, pengalaman itu seperti “ listrik” yang menyengat para pemuda Arab dan dunia Muslim selagi itu.

“ Pada dasarnya ini cuma menghidupkan minat dan antusiasme di pada generasi kami, generasi tua dan anak muda,” tutur Pangeran Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al Saud dikutip dari The New York Times.

“ Saya fikir Anda dapat memandang gelombang anak-anak Arab mengantre untuk jadi astronot,” tambah putra e dua Raja Salman tersebut.

No comments:

Post a Comment

Viral Pemuda Aniaya Tukang Sol Sepatu dengan Tendangan Kung Fu hingga Terpental

Viral Pemuda Aniaya Tukang Sol Sepatu dengan Tendangan Kung Fu hingga Terpental Viral Pemuda Aniaya Tukang Sol Sepatu dengan Tendangan Ku...