Bernama Slamet Hari Natal, Pria Ini Seorang Muslim - PANTAIPOKER

Breaking

Wednesday, December 25, 2019

Bernama Slamet Hari Natal, Pria Ini Seorang Muslim

Bernama Slamet Hari Natal, Pria Ini Seorang Muslim

Bernama Slamet Hari Natal, Pria Ini Seorang Muslim



Daftar di sini
Sebuah KTP punya Pria asal Malang menjadi heboh di media sosial. Pria ini punyai nama yang amat unik sekaligus mudah diingat. Namanya Slamet Hari Natal atau kerap dipanggil Slamet Yesus.

Nama itu diberikan oleh orang tuanya dengan alasan sehingga mudah diingat. Tanggal lahirnya terhitung saat perayaan Hari Natal, 25 Desember.

" Biasanya tersedia yang mengucapkan selamat ulang tahun, bukan Selamat Hari Natal ya, kendati nama aku Slamet Hari Natal. Tapi kawan dan anak-anak aku itu mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Mohon maaf kan aku muslim juga," kata Slamet Hari Natal tersenyum saat ditemui usai bersihkan kendaraannya.

Siang itu, Slamet selesai mobilisasi tugas sebagai tenaga pemungut sampah di lingkungan kampungnya. Dua hari sekali dengan karibnya Suryono, menyita sampah di rumah-rumah warga untuk dibawa ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang berjarak kira-kira kira-kira 5 Km dari rumahnya.

Slamet dengan istrinya, Setyowati tinggal di rumah sederhana di Jalan Sangadi RT 24 RW 08, Dusun Wates, Desa Wonomulyo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Jadi tenaga pemungut sampah sudah dilakoninya kira-kira empat tahun paling akhir dan memilih pensiun menjadi sopir truk antar kota.

" Ini (ambil sampah) keterpanggilan, nanti kecuali tidak tersedia yang hiraukan bagaimana? Saya biasa menolong lingkungan, menggali kubur, terhitung tidak tersedia bayarannya. Siapapun aku tolong tidak hiraukan agamanya atau apa. Ini dimintai tolong lingkungan rayon sini," jelasnya.

Selain memungut sampah dan menggali makam dan aktivitas sosial di lingkungan lainnya, Slamet terhitung terima jasa angkutan dengan mobil bak cocok permintaan.

Slamet didampingi istrinya bercerita perihal keseharian hidup di lingkungan kampung yang wajib saling tolong menolong. Keluarganya pun tidak pernah punyai masalah artinya terkait nama uniknya itu.

" Tidak tersedia masalah, aktivitas keagamaan terhitung biasa, kumpul sama ustad terhitung tidak tersedia masalah. Kalau lingkungan tidak pernah masalah," tegasnya.

Sedikit masalah dirasakan justru saat mengurus surat identitas diri atau surat-surat penting lainnya. Petugas biasanya mengimbuhkan lebih banyak pertanyaan dibanding orang lain untuk lebih memastikan, terlebih untuk kolom nama dan agama.

" Yang masalah itu aku teristimewa atau anak aku saat mengurus surat-surat, pasti ditanya, bener nggak ini namanya, menjadi lebih cermat petugasnya. Orang penasaran terhitung inginkan ngecek dulu," katanya.

" Mungkin kecuali di kolom agamanya Nasrani gitu, nggak begitu masalah. Kolon agama Islam, itu kan menjadi orang bertanya-tanya," tambahnya tertawa.

Pengalaman yang sama terhitung dialami oleh anak-anaknya saat mengurus surat menyurat yang mencantumkan nama ayahnya. Rata-rata tergelitik dan tidak percaya dengan nama itu, terhitung dialami anak bungsunya yang saat ini menjadi anggota TNI.

" Benar tah nama bapakmu iki. Kalau teman-temannya kemungkinan lebih cepat, namun anak-anak aku dapat lebih lama gara-gara ditanya-tanya soal nama ayahnya," katanya.

Saat era kanak-kanak, Slamet terhitung mengaku tidak punya masalah bergaul dengan teman-teman seusianya. Keluarganya sebetulnya lebih kerap memanggil Slamet, saat kecuali kawan sekolahnya beberapa memanggil Natal dan Slamet Yesus.

" Saya itu kan dijuluki Slamet Yesus. Teman-teman SMP itu manggil Natal, bukan Slametnya. Mungkin gara-gara Natal itu kan (kelahiran) Yesus ya. Kan banyak nama Slamet di sekolah, aku dijuluki Slamet Yesus hingga sekarang. Reuni aku singgah tetap dipanggil Slamet Yesus," kisah Alumni SMP Tumpang itu.

Panggilan itupun melekat hingga sekarang ini, sehingga beberapa kawan masing memanggilnya Slamet Yesus. Beberapa undangan pernikahan terhitung tetap ditulis namanya dengan Slamet Yesus.

" Kalau keluarga sejak kecil memanggilnya Slamet, kawan lingkungan dan tetangga tetap banyak yang panggil Sus," ungkapnya.

Slamet tidak pernah punyai niat mengganti nama yang sudah diberikan oleh kedua orang tuanya. Begitu pun orang tuanya, saat itu terhitung tidak pernah mengganti nama yang sudah menjadi isyarat sepanjang era hidupnya.

" Nggak pernah (ganti nama). Mungkin kecuali nama aku ganti, gak bakal silaturahmi ketemu sampeyan," katanya.

Pasangan keluarga Samsuri dan Ngatinah (alm) memberi nama anak pertamanya Slamet Hari Natal. Karena sebetulnya kelahirannya tepat saat perayaan Hari Natal, 25 Desember 1962.

Ketika itu, Ngatinah merintis persalinan di Klinik Desa Kebonsari, Kecamatan Tumpang dengan pemberian bidan Welas Asih atau Bu Kiskio. Bayi merah lahir dari rahim Ngatinah didalam situasi selamat (Slamet), lengkap anggota tubuhnya dan sehat.

Bidan Welas Asih pun merekomendasikan sehingga sang bayi diberi nama Slamet Hari Natal dengan alasan sehingga mudah diingat, tidak cuman gara-gara lahir tepat di peringatan Hari Natal. Nama itulah yang lantas disematkan dan melekat terhadap sosok yang saat ini sudah berusia 57 tahun dengan tiga orang anak dan juga 5 orang cucu.

" Bu daripada sulit-sulit cari nama, sehingga mudah diingat kasih nama saja Slamet Hari Natal cocok dengan kelahiran anak ibu," kata Slamet Hari Natal menirukan arahan bidan Welas Asih yang disampaikan almarhum ibunya.

Hanya kisah itulah yang diterima oleh Slamet dari kedua orangtuanya terkait pemberian namanya yang diakui unik. Nama itu yang jauh hari lantas menjadi perbincangan banyak orang dan semakin ramai sehabis keluar media sosial.

Slamet sendiri terhitung tidak banyak mengerti perihal bidan Welas Asih yang menolongnya saat persalinan. Tetapi terhadap era itu sebetulnya amat tenar gara-gara sebetulnya belum banyak tenaga medis seperti sekarang ini.  Daftar di sini

Slamet terhitung mengaku punyai kisah unik akibat namanya yang aneh dan langka. Saat itu, dirinya mengemudi sebuah kendaraan menyeberang ke Pulai Bali.

Saat di penyebrangan, seluruh kartu identitasnya di cek oleh petugas di Pelabuhan Ketapang. Semua kartu di dompet dikeluarkan, terhitung yang sudah habis era berlakunya.

Tetapi selesai pemeriksaan seorang petugas justru berharap KTP yang sudah mati. Alasannya untuk koleksi gara-gara diakui unik.

" Jadi itu KTP yang mati diminta katanya untuk koleksi," tegasnya.

Slamet mengerti namanya banyak menimbulkan penasaran dan kerap diperbincangkan, namun itu sudah suatu hal yang biasa dan tidak mengganggunya. Nama itu sudah melekat dari pemberian orang tuanya, yang terhitung diberikan untuk adik perempuannya, Mujiati.

" Baiknya nama, kemungkinan bagi saya, bukan dari kalimat dan kalimat saja yang baik, baiknya nama itu terhitung dari ucapan dan perilaku, menurut aku begitu. Namanya baik, namun menyakiti lainnya itu terhitung tidak baik," katanya.

No comments:

Post a Comment

Viral Pemuda Aniaya Tukang Sol Sepatu dengan Tendangan Kung Fu hingga Terpental

Viral Pemuda Aniaya Tukang Sol Sepatu dengan Tendangan Kung Fu hingga Terpental Viral Pemuda Aniaya Tukang Sol Sepatu dengan Tendangan Ku...