Geger Uang Rp100 Ribu Berhamburan di Bekas Gempa Likuifaksi Palu

Pantaipoker Dominokiu
Uang pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu berserakan di bekas lokasi gempa bumi dan tsunami di Petobo, Sulawesi. Diduga uang-uang itu punya para korban bencana alam yang menewaskan ratusan orang tersebut.
Mengutip unggahan account @makassar_iinfo, Sabtu, 8 Juni 2019, penemuan uang itu jadi viral setelah lebih dari satu warga mengunggah video penemuan uang itu ke bermacam platform sosial media.
Dalam video yang beredar muncul warga mendapatkan uang bersama pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu yang berserakan di lokasi tersebut.
Beberapa uang yang ditemukan tetap didalam keadaa utuh meski anggota tepinya sudah muncul berwarna gelap. Uang-uang itu berserakan di atas tanah dan bebaturan dekat lokasi gempa di Petobo.
“Warga di petobo mendapatkan lembaran uang banyak. Diduga punya korban waktu gempa dan tsunami berjalan 8 bulan yg lalu yg terendam lumpur dan tanah,” tulis Yuni Rusmini, salah seorang netizen yang mengunggah video tersebut.
Seorang warga di lokasi yang merekam penemuan selanjutnya mengatakan terkecuali uang-uang itu ditemukan setelah warga menggali lebih dari satu rumah. Selain tumpukan uang, warga juga mendapatkan sebuah sepeda motor.
Uang itu sendiri berasal dari didalam sebuah tas yang juga ditemukan usai warga menggali rumah.
“Inilah lokasi area kejadian lalu, rumah tenggelam semua, dapat uang tas digali, dapat motor dapat uang didalam tas, lokasi di Petobo,” ujarnya.
Dikabarkan uang yang ditemukan selanjutnya diamankan oleh warga setempat.
Sejauh mata memandang, cuma tersedia reruntuhan. Itulah yang berjalan di area Petobo dan Balaroa yang diguncang bumi dan dibolak-bolak fenomena lumpur bergerak.
Semuanya hilang. Hanya didalam hitungan detik. Padahal, pada mulanya tersedia ribuan bangunan kokoh berdiri.
Puing-puing bangunan yang terhampar di lahan luas itu jadi saksi bisu fenomena alam yang mengerikan terhadap Jumat, September 2018 lalu. Likuifaksi namanya. Bahasa mudahnya, pembuburan tanah.
Pada 28 Oktober 2018, tepat sebulan usai bencana, jurnalis Dream Ilman Nafian berkesempatan melihat suasana terkini dari Balaroa. Ada pria setinggi 165 cm berdiri. Pandangan lurus ke arah sebuah lokasi reruntuhan yang sudah rata bersama tanah.
Tangannya mempunyai satu paket bahan pangan. Ada beras, mie instan dan biskuit. Pria bernama Irfandi itu sesekali jongkok, lantas berdiri lagi.
Rupanya Irfandi sedang melihat-lihat bekas rumah dan bengkel motornya yang hancur.
Dengan suara sedikit bergetar, Irfandi menceritakan bagaimana mencekamnya momen di akhir September itu.
Sebelum kejadian, Palu sebenarnya lebih dari satu hari diguncang gempa. Tetapi, dampaknya tidak tidak sampai merusak.
Sore itu, Irfan sedang membereskan bengkel. Dia sedang bersiap menutup area usahanya. Tiba-tiba, berjalan gempa yang dahsyat. Tiang listrik di depan bengkelnya sampai bergoyang dan rubuh.
Tanpa pikir panjang, ia segera menggendong anaknya dan berteriak memanggil istrinya untuk menyelamatkan diri.
" Saya lari ke pertigaan gendong anak yang kecil," kata Irfandi waktu berbincang bersama Dream.
Setelah lebih dari satu kali guncangan, Irfandi melihat secara segera rumah-rumah yang tersedia di hadapannya berputar dan saling bertabrakan.
Peristiwa itu berjalan sangat cepat. Kata Irfandi, terasa sejak awal azan Maghrib sampai berakhirnya azan. Tanah yang tadinya berputar itu tiba-tiba terbelah. Menyedot seutuhnya yang tersedia di atasnya.
Ketika itu, banyak warga yang lari ke lapangan di area perumahan. Tapi, rupanya tanah di lapangan itu juga membubur. Menelan banyak sekali korban jiwa,
Setelah likuifaksi berakhir, Irfandi teringat anak sulungnya yang waktu itu sedang bermain sepeda di kawasan perumahan Balaroa. Tanpa pikir panjang, ia segera lari mencari anaknya.
Dengan melompat lewat rumah-rumah yang sudah hancur dan penerangan seadanya dari telepon genggam, ia berteriak memanggil anak tercinta. Beruntung, sistem pencarian tidak lama. Irfan berhasil mendapatkan anaknya.
" Waktu ketemu anak itu pukul delapan malam. Beruntung selamat, dia posisinya di tanah yang naik, bukan yang amblas. Jadi naik ke atap rumah," ujar Pantaipoker Dominokiu.
Setelah berhasil mendapatkan anak sulungnya, Irfan membatu warga lain mengevakuasi korban yang tertimbun di didalam rumah.
" Ada suara orang-orang minta tolong di tertimpa bangunan. Minta tolong. Kita orang cari sampai Subuh, tersedia yang selamat tersedia juga meninggal," kata dia.

No comments:
Post a Comment